ABSTRAK
Perpustakaan perguruan tinggi
bukanlah sebuah lembaga yang menghasilkan keutungan finansial dari jasa dan produk yang dilayankannya seperti layaknya sebuah perpustakaan. Namun demikian perpustakaan harus membuat seluruh masyarakat umum (terutama civitas akademika) mengetahui apa yang ada di perpustakaan dan kemudian dibujuk untuk “membeli” atau bahkan
“memborong” semua jasa yang tersedia. Apa gunanya? Apa untungnya kalau perpustakaan perguruan tinggi kemudian menjadi populer? Pertanyaan ini selalu muncul setiap kali perpustakaan diajak untuk berpromosi. Berikut adalah alasan (kalaupun bukan keuntungan) mengapa perpustakaan perguruan tinggi harus dipasarkan. Pertama, perpustakaan perguruan tinggi adalah sumber ilmu dan pengetahuan yang paling terkelola dan terpilih dan paling dapat dipertanggung jawabkan. Sementara itu masyarakat kususnya civitas akademika dalam hidupnya dituntut untuk selalu memiliki ilmu dan pengetahuan, baik untuk kebutuhan kerja, pengambilan keputusan atau perluasan wawasan saja. Untuk itu perpustakaan harus berusaha memberitahu masyarakat bahwa ilmu dan pengetahuan yang mereka butuhkan tersedia dengan lengkap dan terjamin kualitasnya serta dengan mudah dan murah dapat diakses di perpustakaan. Kedua, kegiatan penyediaan ilmu dan pengetahuan, mulai dari kegiatan pengumpulan, penyeleksian, pengolahan sampai layanan adalah kegiatan yang sulit, lama dan tidak dapat dilakukan secara sembarangan. Penyediaan ini menuntut sebuah tanggung jawab dan kompetensi yang sangat tinggi agar ilmu dan pengetahuan yang terkemas dalam berbagai macam media dapat tersaji dan tertata untuk langsung dimanfaatkan. Maka akan menjadi sebuah kegiatan yang sia-sia dan terbuang percuma ketika semua usaha ini tidak pernah disentuh, bahkan dimanfaatkan oleh siapapun.Ketiga, masyarakat umum dan pemanfaat tetap jasa perpustakaan harus mengetahui dan mengenal siapa orang-orang yang mampu membuat ilmu dan pengetahuan yang bertebaran dimana-mana, dapat terkumpul dan tersaji dengan sangat akurat di sebuah wadah siap untuk dieksplorasi. Dengan pengenalan ini maka masyarakat akan mengenal dengan benar setiap peran dan fungsi dari setiap orang yang terlibat di dalam pengelolaan ilmu dan pengetahuan di perpustakaan, mulai dari petugas penjaga tas,
petugas sirkulasi, manajer layanan, sampai ke ‘dapur’ dimana ahli pengembangan koleksi pustaka memulai semuanya. Dengan begitu tidak lagi orang secara sembarangan menamai siapapun lanjut. Maka semua orang yang berkarya mengelola pengetahuan mendapat citra yang benar.